Detail Berita

8 Maret 2026, dunia kembali memperingati International Women’s Day. Namun bagi Kaukus Perempuan Parlemen Kabupaten Temanggung, hari ini bukan sekadar seremoni dengan bunga, ucapan manis, atau unggahan media sosial. Hari ini adalah pengingat keras bahwa sejarah perubahan tidak pernah lahir dari perempuan yang memilih diam.

 

Perempuan di parlemen lahir dari perjalanan panjang perjuangan. Dari ruang-ruang diskusi yang diabaikan, dari suara yang kerap dipotong, dari pandangan yang meremehkan keberanian perempuan yang berani berbicara tentang keadilan. Tetapi justru dari pengalaman itulah satu hal menjadi jelas, bahwa perempuan tidak pernah lemah. Yang lemah adalah sistem yang merasa terancam ketika perempuan berdiri dan bersuara.

 

Karena itu Kaukus Perempuan Parlemen Kabupaten Temanggung menegaskan, bahwa politik tidak boleh lagi menjadi ruang sempit yang hanya ramah bagi segelintir suara. Perempuan bukan sekedar pelengkap daftar calon, bukan angka untuk memenuhi kuota demokrasi. Perempuan adalah pembuat kebijakan, penjaga nurani rakyat, dan penggerak perubahan yang nyata.

 

Ketika perempuan diberi ruang untuk memimpin, kebijakan menjadi lebih manusiawi. Ketika perempuan ikut menentukan arah pembangunan, suara rakyat kecil tidak lagi sekedar catatan kaki. Dan ketika perempuan bergerak bersama, bangsa ini tidak hanya berjalan, namun lebih dari itu, bangsa ini melompat jauh ke depan.

 

Kepada seluruh perempuan di Temanggung, baik di desa, di pasar, di sekolah, di kantor, di ladang, dan di ruang-ruang pengambilan keputusan, jangan pernah meragukan kekuatanmu. Perubahan tidak pernah lahir dari mereka yang nyaman dengan keadaan, tetapi dari mereka yang berani menantang ketidakadilan.

 

Hari ini bukan hari untuk sekedar merayakan perempuan. Hari ini adalah hari untuk memperbarui tekad perjuangan. Jika masih ada ketidakadilan, kita lawan. Jika masih ada diskriminasi, kita lawan. Jika masih ada kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil dan perempuan, maka perempuan harus berdiri paling depan.

 

Karena perempuan bukan pelengkap demokrasi. Perempuan adalah denyut nadi yang menentukan arah demokrasi itu sendiri. (Elynawati)