Salah satu tradisi yang menjadi ciri khas Malem Jemuah Pahingan di Desa Menggoro adalah kembang boreh, ramuan tradisional yang sarat dengan makna spiritual. Dalam bahasa Jawa, boreh berarti "dioleskan" atau "dibubuhi". Ramuan khas ini dibuat dari campuran enjet (kapur sirih), pewarna kuning alami yang berasal dari kunyit, irisan daun pandan wangi, serta taburan kelopak bunga mawar merah yang memberikan aroma harum dan tampilan yang khas.
Bagi masyarakat maupun para peziarah, kembang boreh bukan sekadar ramuan tradisional, melainkan simbol perlindungan diri dari marabahaya serta ungkapan rasa syukur atas doa, harapan, atau nazar yang telah dikabulkan. Boreh biasanya dioleskan pada beberapa bagian tubuh, seperti dahi, leher, atau kaki, sebagai bagian dari rangkaian ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Usai mengoleskan kembang boreh, sebagian peziarah melanjutkan prosesi dengan menjalankan tradisi lempar receh, yakni melemparkan koin-koin kecil di perempatan jalan desa. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol pelengkap dalam menunaikan nazar sekaligus menjadi bentuk sedekah yang mengandung nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Keunikan ritual kembang boreh dan lempar receh inilah yang menjadikan Malem Jemuah Pahingan Menggoro tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
SMARTCITY TEMANGGUNG