Warga Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, kembali menggelar tradisi tahunan Nyadran Kupat Sewu, Jumat (21/8/2026). Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan berkah dan air sebagai sumber kehidupan warga, sekaligus menjadi momentum untuk menjaga kelestarian mata air yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Rangkaian acara diawali dengan kirab gunungan dan arak-arakan ketupat yang berlangsung meriah. Gunungan serta ketupat diarak oleh warga. Setelah kirab, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama di area sumber air yang diyakini sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat Desa Ngemplak.
Warga dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan perangkat desa, turut ambil bagian dalam perayaan tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Supriyanto, mengatakan bahwa tradisi Nyadran Kupat Sewu merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan bersama.
“Ini tradisi yang harus kita jaga bersama. Ini merupakan ungkapan syukur atas limpahan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Karena itu, selain melestarikan tradisi, kita juga harus menjaga mata air agar tetap lestari,” ujar Supriyanto.
Tradisi Nyadran Kupat Sewu juga menjadi magnet wisata budaya tahunan yang menarik perhatian pengunjung. Pada tahun 2026, tradisi Kupat Sewu Desa Ngemplak ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan rasa kebersamaan, serta meningkatkan kesadaran untuk menjaga sumber mata air sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung turut mendukung pelaksanaan Nyadran Kupat Sewu sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus promosi potensi wisata budaya lokal Kabupaten Temanggung.
SMARTCITY TEMANGGUNG