Detail Galleri

Dunia pewayangan Jawa Tengah, khususnya wilayah Sanggrahan Kranggan, pernah diselimuti kabut duka yang tebal pada 29 Mei 2025 lalu. Hari itu, kita tidak hanya kehilangan seorang dalang, tetapi kita kehilangan sebuah perpustakaan hidup. Ki Legowo Cipto Karsono, sang maestro yang dengan gigih mempertahankan Wayang Kulit Kedu Gagrag Temanggungan, telah berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan warisan budaya yang tak ternilai harganya.

Kepergian beliau bukan sekadar hilangnya seorang seniman panggung, melainkan padamnya salah satu obor paling terang yang menerangi jalan sunyi pelestarian seni tradisi lokal di tengah gempuran modernisasi.

Lebih dari Sekadar Pertunjukan

Di tengah dominasi gaya pewayangan Surakarta (Solo) dan Yogyakarta yang begitu populer dan dianggap sebagai standar "mainstream", Ki Legowo memilih jalan yang berbeda. Beliau memilih jalan sunyi untuk tetap setia pada pakem lokal, yaitu Wayang Kedu Gagrag Temanggung.

Bagi Ki Legowo, Wayang Kedu bukan sekadar tontonan, melainkan identitas. Gaya ini memiliki karakteristik yang unik:

  • Sabetan (Gerakan Wayang): Lebih lugas, tegas, dan sederhana dibandingkan gaya keraton yang sangat halus.
  • Cengkok (Vokal): Memiliki dialek dan intonasi khas masyarakat Kedu yang "ngapak" namun berwibawa.
  • Gending & Iringan: Memiliki aransemen gamelan yang khas, yang seringkali terdengar lebih sigrak (bersemangat) dan merakyat.

"Wayang Kedu itu ibarat tanah pegunungan Temanggung; ia jujur, tegas, dan apa adanya. Jika bukan kita yang merawatnya, lantas siapa lagi?" — Semangat inilah yang seolah selalu terpancar dari setiap pertunjukan Ki Legowo.

Dedikasi Tanpa Batas

Selama hidupnya, Ki Legowo Cipto Karsono dikenal sebagai sosok yang istiqomah. Beliau tidak tergiur untuk mengubah gaya pedalangannya hanya demi mengikuti selera pasar komersial yang seringkali menuntut pencampuran budaya (kontemporer) secara berlebihan.

Ia adalah benteng pertahanan terakhir yang memastikan bahwa generasi muda Temanggung masih bisa mengenali seperti apa rupa dan suara asli dari leluhur mereka. Di tangannya, tokoh-tokoh wayang tidak hanya menari, tetapi bercerita tentang kearifan lokal masyarakat lereng Sumbing dan Sindoro.

Warisan Sang Maestro

Meskipun Ki Legowo telah wafat pada 29 Mei 2025, jejak kakinya di bumi Temanggung tidak akan mudah terhapus. Warisannya meliputi:

  1. Regenerasi Dalang: Beliau aktif membimbing dalang-dalang muda untuk tidak malu menggunakan Gagrag Temanggungan.
  2. Regenerasi Pembuat Wayang Kedu: Beliau juga sangat antusias untuk memberikan ilmu tentang tatah dan sungging (mewarnai) pada wayang yang bergaya dan berciri khas Kedu Temanggungan.
  3. Dokumentasi Budaya: Melalui berbagai pementasannya, beliau telah mendokumentasikan lakon-lakon khas daerah yang mungkin tidak ditemukan di gaya Solo atau Yogya.
  4. Kebanggaan Lokal: Beliau berhasil menanamkan rasa bangga bahwa Temanggung memiliki gaya seni pedalangan yang mandiri dan berkarakter.

Selamat Jalan, Ki Legowo

Kini, Sang Maestro Wayang Kedu Gagrag Temanggung telah berpulang, namun gema suaranya saat melantunkan suluk masih terasa hidup di telinga para penggemarnya. Ki Legowo Cipto Karsono mungkin telah meletakkan cempala-nya untuk yang terakhir kali, namun layar kelir yang beliau bentangkan tidak akan pernah digulung selama generasi penerus masih mau memainkannya.

Selamat jalan, Sang Maestro. Karyamu abadi, namamu harum di sela-sela aroma tembakau dan kopi Temanggung yang kau cintai.