Kabupaten Temanggung tidak hanya dikenal dengan hamparan tembakau dan keindahan alam lereng sumbing-sindoro, tetapi juga menjadi rumah bagi kekayaan tradisi yang dirawat dengan kesetiaan tanpa batas. Salah satu mutiara kebudayaan yang masih bersinar di Bumi Temanggung dan sekitarnya adalah Wayang Kedu Gagrag (Gaya) Temanggungan. Di balik lestarinya kesenian adiluhung ini, ada sosok dalang sepuh dari Desa Tening, Kecamatan Wonoboyo, yang mendedikasikan seluruh hidupnya: Ki Yatman Siswo Wisono.
Bukan sekadar dalang, Ki Yatman adalah jembatan sejarah yang kokoh. Di tangannya, Wayang Kedu terbukti mampu melewati ujian zaman, dirawat, dan dilestarikan hingga memasuki generasi ketujuh.
Meluruskan Silsilah Emas Wayang Kedu
Salah satu sumbangsih terbesar Ki Yatman, di luar kepiawaiannya memainkan jemparing naraca di atas kelir adalah perannya sebagai penjaga memori kolektif silsilah kedalangan Kedu. Selama ini, kerap terjadi kerancuan mengenai garis keturunan dan transmisi keilmuan para maestro Wayang Kedu.
Melalui penuturan langsung Ki Yatman, tabir sejarah itu kini menjadi lebih terang. Beliau meluruskan garis silsilah emas para dalang pewaris tradisi Kedu sejak generasi pertama:
- Generasi I: Ki Lebdajiwa (Sumbu awal tradisi)
- Generasi II: Ki Redisuto
- Generasi III: Ki Redisuto II
- Generasi IV: Ki Marawangsa
Garis silsilah yang runut ini membuktikan bahwa Wayang Kedu Gagrag Temanggungan bukanlah kesenian yang lahir kemarin sore, melainkan sebuah warisan kultural yang memiliki akar silsilah yang sangat kuat, presisi, dan dijaga kesucian pakemnya secara turun-temurun hingga ke generasi Ki Yatman saat ini.
Karakteristik Gagrag Kedu Temanggungan yang Unik
Wayang Kedu memiliki tempat tersendiri di hati pencinta pewayangan. Berbeda dengan gaya Surakarta atau Yogyakarta, Gagrag Kedu Temanggungan memiliki ciri khas pada dialek, sulukan, sabetan, hingga penekanan karakter tokoh yang lebih dekat dengan sosiologis masyarakat agraris lereng gunung. Gending-gending pengiringnya pun membawa ritme lokal yang magis dan membumi.
Bagi Ki Yatman, merawat wayang ini bukan sekadar urusan merawat kotak dan wayang kulitnya secara fisik, melainkan menjaga ruh, filosofi hidup, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam setiap lakon agar tidak luntur digilas modernisasi.
Apresiasi Tertinggi: Anugerah Kebudayaan Jawa Tengah 2026
Dedikasi seumur hidup yang sunyi namun konsisten ini akhirnya membuahkan pengakuan di tingkat regional. Ki Yatman Siswo Wisono secara resmi ditetapkan sebagai salah satu penerima Anugerah Kebudayaan Jawa Tengah tahun 2026.
Dari jutaan seniman dan budayawan di Jawa Tengah, tim kurator hanya memilih delapan sosok terbaik, dan Ki Yatman berhasil terpilih untuk kategori Pelestari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Penghargaan prestisius ini direncanakan akan diserahkan secara resmi pada prosesi khidmat Malam Anugerah Kebudayaan Jawa Tengah 2026.
Penghargaan ini menjadi penanda penting bahwa negara dan masyarakat adat mengakui eksistensi Wayang Kedu Temanggungan. Lebih dari itu, penghargaan ini adalah penghormatan bagi keteguhan seorang lelaki sepuh dari Wonoboyo yang memilih menjadi benteng terakhir bagi kelestarian budaya leluhurnya.
Melalui sosok Ki Yatman Siswo Wisono, kita belajar bahwa merawat kebudayaan hingga tujuh turunan bukanlah pekerjaan yang ringan. Ia membutuhkan cinta yang melampaui usia, dan kesetiaan yang melampaui tren zaman. Rahayu Ki Yatman, teruslah menyuburkan seni di Bumi Temanggung.
SMARTCITY TEMANGGUNG